Belajar Ilmu Manṭiq #7: al-Maqūlāt al-‘Asyr; Sepuluh Kategori Makna dalam Manṭiq
"Bagaimana para logikawan mengklasifikasi seluruh makna dari entitas yang ada di semesta ini?"
![]() |
| Pembahasan al-Maqūlāt al-‘Asyr merupakan salah satu bagian dasar dalam manṭiq yang membantu kita memahami jenis-jenis makna yang dapat disandarkan kepada sesuatu. |
Ketika kita berbicara tentang sesuatu, sebenarnya kita sedang “menyandarkan” suatu makna kepada suatu objek. Misalnya kita mengatakan, “Buku ini tebal,” atau “Air ini panas,” atau “Zaid sedang duduk.” Di balik kalimat-kalimat sederhana itu, terdapat struktur makna yang saling berkaitan. Bagi logikawan, penyandaran makna kepada objek tidak terjadi secara acak. Ada pola-pola tertentu, dan pola itu bisa diklasifikasikan.
Pada kesempatan kali ini, kita akan masuk ke pembahasan mengenai al-Maqūlāt al-‘Asyr; sepuluh kategori dasar yang menjadi fondasi bagi berbagai jenis predikasi dalam manṭiq.
Kalau pada bab sebelumnya kita membahas dua jenis pengetahuan (taṣawwur dan taṣdīq), maka pada bab ini kita bergeser sedikit: bukan lagi bagaimana akal mengetahui sesuatu, tetapi jenis makna apa saja yang dapat menjadi bahan pembicaraan ketika akal menyusun pengetahuan.
Dengan kata lain, al-Maqūlāt al-‘Asyr adalah peta besar makna: peta yang membantu kita memahami jenis-jenis sifat yang bisa dinisbatkan kepada sesuatu.
Mengapa Logikawan Membicarakan al-Maqūlāt al-‘Asyr?
Pertanyaan pertama yang muncul adalah: mengapa logikawan repot-repot membuat sepuluh kategori? Apa urgensinya?
Jawabannya sederhana namun penting:
Tidak semua sifat yang disandarkan kepada sesuatu memiliki jenis yang sama.
Ada sifat yang berkaitan dengan jumlah, ada yang berkaitan dengan kualitas, ada yang berkaitan dengan hubungan, ada yang berkaitan dengan tempat, dan seterusnya. Jika semua sifat itu dicampur, maka sulit bagi akal untuk memahami struktur pengetahuan.
Karena itu, logikawan membuat kerangka dasar:
Jika kamu mengatakan sesuatu tentang sesuatu, predikatmu pasti jatuh ke salah satu dari sepuluh kategori berikut.
Kategori-kategori ini pada akhirnya menjadi pondasi bagi pembahasan:
definisi (al-ḥadd)
rasm
pembentukan proposisi (al-qaḍāyā)
analisis silogisme
dan banyak cabang lain dalam manṭiq dan filsafat
Maka memahami al-Maqūlāt al-‘Asyr adalah pondasi penting untuk bab-bab selanjutnya.
Sepuluh Kategori Itu Apa Saja?
Secara ringkas, sepuluh kategori tersebut adalah:
الجوهر (al-jawhar) — substansi
الكم (al-kamm) — kuantitas
الكيف (al-kaif) — kualitas
الإضافة (al-idāfah) — relasi
الأين (al-ayn) — tempat
المتى (al-matā) — waktu
الوضع (al-waḍ‘) — posisi
الجدة (al-jidah) — keadaan / possession
الفعل (al-fi‘l) — aksi
الانفعال (al-infi‘āl) — afeksi / keadaan dipengaruhi
Dalam tulisan ini, kita akan menguraikan masing-masing dengan contoh sederhana dan bahasa yang mudah diikuti. Insya Allah.
1. al-Jawhar (Substansi): Dasar Segala Penyandaran
Kita mulai dari kategori pertama dan paling fundamental: al-jawhar.
Logikawan mendefinisikan jawhar sebagai:
“sesuatu yang keberadaannya tidak berada di dalam subjek lain.”
(لا يكون في موضوع)
Maksudnya, jawhar adalah sesuatu yang ada dengan dirinya sendiri dan menjadi tempat bagi sifat-sifat lain menempel.
Contoh jawhar:
manusia
kuda
batu
buku
pohon
Ketika kita mengatakan:
“Manusia itu tinggi,”
maka:
“manusia” = jawhar
“tinggi” = sifat yang menempel pada jawhar
Tanpa jawhar, sembilan kategori lainnya tidak bisa berdiri sendiri.
“Putih” tidak ada tanpa sesuatu yang putih; “panjang” tidak ada tanpa sesuatu yang panjang; “sedang duduk” tidak ada tanpa seseorang yang duduk.
Karena itu jawhar diberi posisi sebagai kategori pertama.
2. al-Kamm (Kuantitas): Sifat yang Berkaitan dengan “Berapa”
Kategori kedua adalah al-kamm, yaitu sifat yang menjawab pertanyaan “berapa”.
Contohnya:
dua orang
tiga gelas
lima meter
200 halaman
30 derajat
Ketika kita mengatakan:
“Meja ini dua meter panjangnya,”
maka “dua meter” adalah kamm.
Kamm mencakup jumlah (quantum discrete) dan ukuran (quantum continuous).
Kamm bukan membahas “bagaimana sifat sesuatu”, tapi “berapa banyak atau berapa panjangnya sesuatu”.
3. al-Kaif (Kualitas): Bagaimana Sifat Sesuatu
Kalau kamm menjawab pertanyaan “berapa”, maka al-kaif menjawab pertanyaan “bagaimana”.
Contoh:
putih
keras
lembut
panas
pahit
manis
cerdas
pemalu
Ketika kita mengatakan:
“Air ini panas,”
predikat “panas” adalah kaif.
Jenis makna kaif sangat banyak: sifat fisik, sifat psikologis, sifat abstrak, sifat moral, sifat intelektual.
Intinya: kaif adalah “ciri” yang membuat suatu objek tampak seperti apa adanya.
4. al-Idāfah (Relasi): Sifat yang Bergantung pada Dua Hal
al-idāfah adalah salah satu kategori yang menarik, karena ia tidak dapat dipahami tanpa ada dua hal yang dibandingkan.
Contoh:
lebih besar dari…
lebih kecil daripada…
anak dari…
guru bagi…
saudara dari…
Kalimat:
“Zaid lebih tinggi daripada Umar,”
mengandung predikat “lebih tinggi daripada” yang tidak bisa berdiri sendirian.
Kalau hanya “tinggi”, itu masuk kaif.
Tapi “lebih tinggi daripada” → butuh relasi antara dua subjek.
Karena itu ia menjadi kategori tersendiri.
5. al-Ayn (Tempat): Di Mana Sesuatu Berada
Kategori ini menjawab pertanyaan sederhana: “di mana?”
Bukan dalam makna geografis besar (negara, kota), tetapi dalam makna “posisi keberadaan ruang”.
Contoh:
di kamar
di ruang tamu
di atas meja
di bawah pohon
Kalimat:
“Buku itu di atas meja.”
menunjukkan predikat “di atas meja” → termasuk ayn.
6. al-Matā (Waktu): Kapan Sesuatu Terjadi
Kategori keenam adalah al-matā, yaitu makna yang menjawab pertanyaan “kapan”.
Contoh:
kemarin
besok
jam tiga
pagi hari
malam tadi
Ketika kita mengatakan:
“Pertemuan itu besok pagi,”
“besok pagi” termasuk matā.
7. al-Waḍ‘ (Posisi): Cara Bagian-Bagian Tersusun
al-waḍ‘ adalah jenis makna yang menjelaskan bagaimana posisi tubuh atau bagian suatu objek tersusun.
Contoh:
duduk
berdiri
sujud
telentang
mendongak
Kalimat:
“Zaid sedang duduk,”
menunjukkan waḍ‘.
Berbeda dengan ayn, yang membahas “di mana”, waḍ‘ membahas “bagaimana”.
8. al-Jidah (Keadaan / Possession): Memiliki atau Dilingkupi Sesuatu
al-jidah adalah kategori yang berkaitan dengan keadaan “ber-” sesuatu.
Contoh:
memakai baju
memakai cincin
memegang tongkat
memakai sandal
Kalimat:
“Zaid memakai sorban.”
berarti keadaan yang menempel pada Zaid tetapi tidak termasuk bagian dirinya → ini jidah.
9. al-Fi‘l (Aksi): Tindakan yang Keluar dari Subjek
Kategori kesembilan adalah al-fi‘l, yaitu tindakan aktif yang dilakukan subjek.
Contoh:
memukul
berjalan
menulis
mengajar
mengangkat
Kalimat:
“Zaid sedang menulis,”
“menulis” termasuk fi‘l.
10. al-Infi‘āl (Afeksi): Keadaan Ketika Subjek Dipengaruhi
Ini adalah kebalikan dari fi‘l.
Contoh:
dipukul
terbakar
didorong
digerakkan
Kalimat:
“Kertas itu terbakar,”
“terbakar” termasuk infi‘āl, karena ia menggambarkan kondisi menerima aksi.
Ringkasan: Sepuluh Kategori dan Contoh Singkatnya
Untuk memudahkan pembaca, berikut ringkasannya:
| Kategori | Pertanyaan | Contoh |
|---|---|---|
| al-jawhar | apa itu? | manusia, kuda |
| al-kamm | berapa? | dua orang, tiga meter |
| al-kaif | bagaimana? | putih, panas |
| al-idāfah | hubungannya apa? | lebih tinggi dari |
| al-ayn | di mana? | di atas meja |
| al-matā | kapan? | besok pagi |
| al-waḍ‘ | posisi bagaimana? | duduk, sujud |
| al-jidah | dalam keadaan apa? | memakai baju |
| al-fi‘l | apa yang ia lakukan? | memukul |
| al-infi‘āl | apa yang menimpanya? | dipukul |
Mengapa Memahami al-Maqūlāt al-‘Asyr Penting?
Ada beberapa alasan:
Ketika kita ingin mendefinisikan sesuatu, kita perlu tahu kategori apa yang sedang kita bicarakan.
Pemahaman tentang predikat sangat dipengaruhi oleh kategori makna tempat predikat itu berada.
Banyak kekeliruan muncul karena menyamakan kategori yang berbeda, misalnya mencampur “kualitas” dengan “kuantitas”.
Ketika mengajar atau menulis, memahami kategori makna membuat penyampaian lebih rapi.
Penutup
Pembahasan al-Maqūlāt al-‘Asyr merupakan salah satu bagian dasar dalam manṭiq yang membantu kita memahami jenis-jenis makna yang dapat disandarkan kepada sesuatu. Mulai dari substansi, kuantitas, kualitas, relasi, tempat, waktu, posisi, keadaan, tindakan, hingga keadaan dipengaruhi, semuanya memiliki peranan dalam proses akal berpikir.
Dengan memahami sepuluh kategori ini, kita akan lebih siap memasuki pembahasan berikutnya: bagaimana menyusun definisi (al-ḥadd), rasm, dan bagaimana menyusun penilaian (taṣdīq) secara sistematis dalam ilmu manṭiq.
Ini adalah pondasi yang perlu kukuh agar bangunan ilmu di atasnya dapat berdiri dengan benar.

Berkomentarlah dengan bijak!