0
Home  ›  Al-Iqtishad fi al-I‘tiqad  ›  Chapter

Al-Iqtishad fi al-I‘tiqad #1 : Mukaddimah; Menemukan Keseimbangan antara Akal dan Wahyu

"Bagaimana Kitab Al-Iqtishad fi al-I‘tiqad karya Imam al-Ghazali menjelaskan keseimbangan antara akal dan wahyu?"

Al-Iqtishad fi al-I‘tiqad karya Imam Abu Hamid al-Ghazali; kitab akidah Ahlus Sunnah wal Jama‘ah dalam kerangka pemikiran mazhab Asy‘ari, yang memadukan pandangan akal dan dalil syariat Islam.

Ada sesuatu yang menenangkan dari membaca karya-karya Imam Abu Hamid al-Ghazali. Tulisannya tidak pernah terburu-buru. Setiap kalimat seperti mengandung waktu; mengajak kita berhenti, berpikir, lalu merenung sebelum melangkah ke kalimat berikutnya.

Dan dari sekian banyak karya beliau, Al-Iqtishad fi al-I‘tiqad adalah salah satu yang paling matang.

Kitab ini bukan sekadar pembahasan tentang akidah; ia adalah peta pemikiran tentang bagaimana manusia seharusnya memahami Tuhan, wahyu, dan akalnya sendiri.

Dan mukaddimahnya, yang tampak sederhana di permukaan, sejatinya adalah pondasi seluruh bangunan intelektual al-Ghazali.

Awal yang Lembut, Tapi Tegas

Al-Ghazali membuka kitab ini dengan kalimat yang penuh keindahan spiritual dan intelektual:

 الحمد لله الذي اجتبى من صفوة عباده عصابة الحق وأهل السنة، وخصهم من بين سائر الفرق بمزايا اللطف والمنة، وأفاض عليهم من نور هدايته ما كشف به عن حقائق الدين...

“Segala puji bagi Allah yang telah memilih dari hamba-hamba pilihan-Nya sekelompok penjaga kebenaran dan pengikut jalan Ahlus Sunnah, yang diberi anugerah kelembutan dan nikmat, dan dilimpahi cahaya petunjuk yang menyingkap hakikat-hakikat agama.”

Di sini, al-Ghazali tidak sedang memuji kelompok tertentu, tapi mengungkapkan struktur spiritual dari ilmu itu sendiri.

Bahwa pemahaman agama tidak bisa dipisahkan dari taufik; bimbingan Ilahi.

Seseorang bisa belajar seumur hidup, tapi tanpa cahaya hidayah, pengetahuannya hanya berputar di permukaan.

Kalimat “وأفاض عليهم من نور هدايته ما كشف به عن حقائق الدين” menegaskan bahwa kebenaran tidak dicapai, tapi diberikan. Ia bukan hasil spekulasi logika, tapi buah dari hati yang disinari cahaya Tuhan. Dan itulah kunci pertama dari mukaddimah ini: ilmu yang benar selalu lahir dari keseimbangan antara usaha intelektual dan kebeningan spiritual.

Ilmu yang Menjernihkan, Bukan Menyesatkan

Setelah memuji Allah, al-Ghazali melanjutkan dengan menggambarkan siapa mereka yang diberi anugerah pemahaman sejati:

وأنطق ألسنتهم بحجته التي قمع بها ضلال الملحدين، وصفى سرائرهم من وساوس الشياطين، وطهر ضمائرهم عن نزغات الزائغين، وعمر أفئدتهم بأنوار اليقين...

“Dan Allah menjadikan lidah mereka fasih dalam berhujah, menyucikan hati mereka dari godaan setan, membersihkan jiwa mereka dari penyimpangan, dan memenuhi dada mereka dengan cahaya keyakinan.”

Di sini, al-Ghazali menunjukkan empat syarat ilmu yang benar:

  1. Lisan yang jujur – ilmu harus digunakan untuk menegakkan kebenaran, bukan kepentingan.
  2. Hati yang bersih – bebas dari iri, dengki, dan hawa nafsu yang mengotori niat.
  3. Jiwa yang tenang – tidak reaktif terhadap perbedaan atau keraguan yang bersifat parsial (berbeda jika perbedaan fundamental yang memang wajib untuk diingkari).
  4. Keyakinan yang bercahaya – tidak fanatik, tapi teguh.

Bagi al-Ghazali, pengetahuan sejati tidak bisa tumbuh di tanah hati yang kotor. Sebab akal tanpa penyucian jiwa akan selalu berpaling dari kebenaran.

Inilah mengapa, sebelum berbicara tentang akal dan logika, beliau terlebih dahulu berbicara tentang tazkiyatun nafs (pembersihan diri). Karena bagi beliau, akar kesesatan bukan kekurangan logika, tapi kesombongan batin.

Dua Golongan Ekstrem

Setelah menegaskan siapa yang mendapat petunjuk, al-Ghazali beralih membahas mereka yang tersesat karena tidak menempuh jalan keseimbangan.

 وعرفوا أن من ظن من الحشوية وجوب الجمود على التقليد، واتباع الظواهر ما أتوا به إلا من ضعف العقول وقلة البصائر. وإن من تغلغل من الفلاسفة وغلاة المعتزلة في تصرف العقل حتى صادموا به قواطع الشرع، ما أتوا به إلا من خبث الضمائر.

Dalam satu paragraf ini, al-Ghazali menyorot dua ekstrem besar yang sejak dulu mewarnai dunia pemikiran Islam:

Kelompok pertama, الحشوية (hashawiyyah); mereka yang berpegang pada teks secara literal dan menolak akal sama sekali. Mereka takut berpikir, seolah berpikir berarti menodai kesucian agama (dalam konteks saat ini, barangkali ini termasuk kelompok salafi ekstrem). Al-Ghazali menyebut sikap ini sebagai tanda lemahnya akal dan sempitnya wawasan.

Kelompok kedua, para filosof dan kaum Mu‘tazilah ekstrem, yang menuhankan akal hingga berani menolak nash syariat jika terasa tidak masuk logika mereka. Menurut al-Ghazali, kesalahan mereka bukan karena akalnya tajam, tapi karena hatinya rusak — “ما أتوا به إلا من خبث الضمائر”; karena busuknya niat dan kesombongan batin.

Kedua kelompok ini tampak berlawanan, tapi sejatinya mereka sama: sama-sama menjauh dari kebenaran, karena kehilangan keseimbangan.

 فميل أولئك إلى التفريط وميل هؤلاء إلى الإفراط، وكلاهما بعيد عن الحزم والاحتياط.

“Yang pertama condong kepada kelalaian, yang kedua kepada berlebihan; dan keduanya jauh dari jalan yang bijak.”

Kalimat ini seperti ringkasan dari seluruh perjalanan intelektual al-Ghazali. Setelah menempuh jalur filsafat, tasawuf, dan kalam, ia akhirnya sampai pada satu kesimpulan: kebenaran selalu ada di tengah-tengah. Tidak di ujung kaku, tidak pula di puncak kesombongan intelektual.

Al-Iqtishad: Moderasi Sebagai Jalan Ilmu dan Iman

Dari dua ekstrem itulah muncul gagasan besar al-Ghazali: Al-Iqtishad; moderasi, keseimbangan, pertengahan. Moderasi yang dimaksud bukan kompromi, tapi proporsionalitas berpikir dan beriman.

Akal dan wahyu, bagi beliau, bukan dua kekuatan yang bertentangan, melainkan dua instrumen yang seharusnya berjalan berdampingan. Tanpa wahyu, akal kehilangan arah. Tanpa akal, wahyu kehilangan pemahaman.

Moderasi di sini bukan tentang memilih titik tengah di antara dua kutub, melainkan mengembalikan masing-masing pada fungsinya yang seharusnya. Akal untuk menimbang, wahyu untuk menuntun.

Dan ketika keduanya bersatu, barulah lahir yang disebut hikmah; kebijaksanaan.

Perumpamaan Akal dan Al-Qur’an

Lalu, di bagian paling indah dari mukaddimah ini, Imam al-Ghazali menulis perumpamaan yang begitu terkenal:

فمثال العقل البصر السليم عن الآفات والأذى، ومثال القرآن الشمس المنتشرة الضياء.

“Akal itu ibarat mata yang sehat dari penyakit, sedangkan Al-Qur’an ibarat matahari yang memancarkan cahaya.”

Perumpamaan ini tampak sederhana, tapi jika direnungi, ia mengandung seluruh epistemologi Islam yang mendalam. Tanpa mata, matahari tak berguna. Tanpa matahari, mata tak akan melihat.

Dan orang yang menolak peran akal, kata beliau, ibarat orang yang berdiri di bawah matahari tapi menutup matanya. Ia dikelilingi cahaya, tapi tetap dalam kegelapan.

فالمعرض عن العقل مكتفيًا بنور القرآن مثاله المتعرض لنور الشمس مغمضًا للأجفان، فلا فرق بينه وبين العميان.

Sebaliknya, orang yang hanya mengandalkan akal tanpa wahyu, adalah seperti mata yang sehat tapi hidup di malam yang gelap. Ia akan terus menebak-nebak arah, dan akhirnya tersesat oleh bayangannya sendiri.

Akal dan wahyu, bagi al-Ghazali, adalah dua cahaya yang tidak boleh dipisahkan. Keduanya berasal dari sumber yang sama: Allah. Dan Allah tidak mungkin menurunkan dua cahaya yang saling meniadakan.

فالعقل مع الشرع نور على نور.

“Akal bersama syariat adalah cahaya di atas cahaya.”

Doa di Ujung Mukaddimah

Setelah seluruh uraian logis itu, al-Ghazali menutup mukaddimahnya dengan doa:

نسأل الله تعالى أن يصفي أسرارنا عن كدورات الضلال، ويغمرها بنور الحقيقة، وأن يخرس ألسنتنا عن النطق بالباطل، وينطقها بالحق والحكمة.

“Kami memohon kepada Allah agar membersihkan hati kami dari kekeruhan kesesatan, meneranginya dengan cahaya kebenaran, membungkam lidah kami dari kebatilan, dan menuntunnya hanya untuk berbicara dengan kebenaran dan hikmah.”

Saya suka bagian ini.

Setelah berbicara panjang tentang akal, logika, dan keseimbangan, beliau menutup dengan doa yang begitu sederhana. Seolah ingin mengingatkan: setelah semua debat, semua teori, semua penjelasan; yang paling penting bukan siapa yang benar, tapi siapa yang disucikan hatinya untuk menerima kebenaran.

Refleksi Untuk Kita

Seribu tahun lebih telah berlalu sejak al-Ghazali menulis mukaddimah ini. Namun ketika membacanya hari ini, rasanya seperti sedang melihat cermin zaman kita sendiri.

Kita hidup di masa di mana orang mudah merasa cukup hanya dengan teks, tapi juga mudah terjebak dalam akal yang liar. Satu sisi membeku dalam dogma, sisi lain mabuk oleh logika.

Dan seperti seribu tahun lalu, al-Ghazali datang kembali, kali ini lewat tulisan, untuk mengingatkan: kebenaran bukan berada di ujung-ujung ekstrem itu. Kebenaran ada di tengah, di tempat di mana akal dan wahyu saling berpelukan. Karena agama, bagi al-Ghazali, bukan kumpulan larangan, dan filsafat bukan permainan logika. Keduanya adalah jalan, dan di tengah jalan itu, ada cahaya yang sama, yang datang dari Tuhan.

Penutup: Sebuah Doa untuk Para Pencari

Membaca mukaddimah Al-Iqtishad fi al-I‘tiqad membuat saya teringat pada satu hal sederhana: betapa lemahnya manusia tanpa bimbingan, dan betapa berbahayanya ilmu tanpa keikhlasan.

Al-Ghazali bukan ingin kita berhenti berpikir, tapi agar kita berpikir dengan hati yang tunduk. Ia tidak meminta kita membuang logika, tapi menggunakannya untuk mengenali keindahan wahyu.

Dan mungkin, itulah makna paling dalam dari mukaddimah ini, sebuah seruan halus dari seorang alim besar kepada umat manusia:

“Gunakan akalmu, tapi jangan biarkan ia berjalan tanpa cahaya. Bacalah wahyu, tapi jangan tutup matamu dari tanda-tanda yang tersebar di dunia.”

Selanjutnya, kita akan membedah sistematika penulisan kitab karya Ulama agung ini pada tulisan berikutnya. Insya Allah.

Serial
Posting Komentar
Additional JS