Hikam ‘Aṭā’iyyah [1] Bergantung Pada Amal
"Series ini berisi catatan ngaji kitab Hikam ‘Aṭā’iyyah karya Dr. Said Ramadhan al-Buthi."
“Di antara tanda ketergantungan pada amal adalah berkurangnya harapan ketika terjadi kesalahan."
Apakah bersandar pada amal dalam pandangan syariat itu sesuatu yang terpuji atau tercela?
Ibn ‘Aṭā’illāh berkata kepada kita:
“Janganlah engkau bersandar, dalam meraih ridha Allah atasmu atau dalam memperoleh ganjaran yang telah dijanjikan-Nya, pada amal yang telah engkau lakukan dan yang engkau berhasil laksanakan — seperti shalat, puasa, sedekah, atau berbagai kebaikan lainnya. Tetapi bersandarlah dalam semua itu kepada kelembutan, karunia, dan kemurahan Allah.”
Apakah ada dalil untuk hal ini?
Ya, sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh al-Bukhārī dan lainnya:
“Tidak seorang pun di antara kalian yang akan masuk surga karena amalnya.”
Para sahabat bertanya, “Tidak juga engkau, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Tidak juga aku, kecuali bila Allah melimpahiku dengan rahmat-Nya.”
Maka, amal bukanlah harga bagi surga. Jika demikian halnya, maka ketika engkau diberi taufik untuk melaksanakan ketaatan, engkau seharusnya berharap akan ridha Allah dan pahala-Nya karena mengharap kemurahan, ampunan, dan karunia-Nya, bukan karena engkau menuntut upah atas amal yang engkau lakukan.
Dan di sinilah beliau berkata:
“Salah satu tanda bahwa engkau bergantung pada amalmu, bukan pada karunia Allah, adalah ketika harapanmu kepada ampunan-Nya berkurang saat engkau terjatuh dalam dosa.”
Artinya: ketika engkau terjerumus dalam maksiat dan kesalahan, harapanmu kepada rahmat Allah memudar.
![]() |
| Ilustrasi bergantung pada amal perbuatan. (Santrilogy/Emha) |
Hal itu menunjukkan bahwa ketika engkau tidak berharap pada kemurahan dan anugerah Allah sebelumnya, sebenarnya engkau sedang bersandar pada amalmu sendiri. Maka ketika amalmu menurun dan dosamu bertambah, lenyaplah harapanmu.
Itulah tanda bahwa harapanmu sebelumnya bukan pada Allah, tetapi pada amalmu.
Inilah makna singkat dari hikmah ini.
Hikmah ini memiliki dimensi penting dalam bidang akidah, sunnah Nabi ﷺ, serta dimensi akhlak dan pendidikan ruhani.
Kita akan membahas semuanya, insya Allah.
Perlu diketahui bahwa hikmah-hikmah Ibn ‘Aṭā’illāh terbagi menjadi tiga bagian:
- Bagian pertama berporos pada tauhid (pengesaan Allah),
- Bagian kedua berporos pada akhlak,
- Bagian ketiga berporos pada suluk (perjalanan ruhani) dan penyucian jiwa dari kotoran.
Mari kita mulai dengan menjelaskan sisi akidah dari hikmah pertama ini.
Sisi Akidah dari Hikmah Ini
Penulis Jawharat al-Tauḥīd berkata:
“Jika Ia menyiksa, maka itu murni keadilan, dan jika Ia memberi pahala, maka itu murni karunia.”
Inilah akidah yang seharusnya dipegang oleh setiap muslim.
Demikianlah keyakinan para salaf saleh, semoga Allah meridhai mereka.
Barangkali ada yang berkata:
“Bukankah pahala itu tampaknya merupakan balasan atas amal saleh yang kita lakukan?”
Namun, jika kita perhatikan dan renungkan hubungan antara hamba dan Tuhannya, kita akan tahu bahwa kenyataannya tidak demikian.
Apa makna ucapan seseorang yang berkata,
“Sesungguhnya Allah memberi pahala kepadaku karena amal-amalku, dan memasukkanku ke surga karena perbuatanku”?
Maknanya: seakan-akan Allah telah menetapkan harga untuk surga, bukan berupa uang atau materi, tetapi berupa amal ibadah, ketaatan, dan menjauhi larangan.
Seolah-olah jika engkau telah melaksanakan amal dan meninggalkan larangan, maka engkau telah membayar harga itu dan berhak atas surga — seperti orang yang membeli sebidang tanah dan telah membayar harganya penuh, lalu menuntut hak miliknya.
Namun, apakah hubungan antara hamba dan Tuhan seperti itu?
Tentu tidak. Hubungan itu berbeda sama sekali.
Ketika Allah memerintahkanmu untuk taat dan menjauh dari larangan, lalu Dia memberimu taufik hingga engkau mampu menjalankannya, maka keadaanmu sangat berbeda dari orang yang membeli barang dengan uangnya sendiri.
Siapa yang memberimu kemampuan untuk shalat?
Siapa yang memberimu kekuatan untuk berpuasa?
Siapa yang melapangkan dadamu untuk beriman?
Bukankah Allah?
Sebagaimana firman-Nya:
“Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan masuk Islam. Katakanlah: Janganlah kalian merasa berjasa kepadaku karena Islam kalian, tetapi Allahlah yang memberi nikmat kepadamu karena telah menunjuki kalian kepada iman.” (QS. al-Ḥujurāt: 17)
Maka sangat berbeda antara amal yang lahir dari kemampuan sendiri dengan amal yang sebenarnya merupakan pemberian Allah.
Jika engkau meyakini bahwa amalmu adalah hasil kekuatanmu sendiri, dan bahwa dengan amal itu engkau berhak atas surga, maka keyakinan seperti itu termasuk syirik yang berbahaya.
Karena keyakinan itu berarti engkau menganggap amalmu berdiri sendiri tanpa kehendak Allah — seolah engkau mempersembahkan amalmu kepada Allah lalu menuntut balasan.
Padahal engkau hanyalah hamba yang lemah.
Mana mungkin engkau menuntut kepada Tuhanmu sesuatu yang bahkan kekuatan untuk melakukannya pun berasal dari-Nya?
Ingatlah sabda Nabi ﷺ:
“Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh” — “Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah.”
Dan keyakinan para ulama akidah — seperti al-Asy‘arī dan al-Māturīdī — bahwa Allah-lah yang menciptakan amal-amal hamba.
Jika engkau memuji Allah dengan lisanmu, maka pujilah Dia karena telah menggerakkan lidahmu untuk memuji-Nya.
Jika engkau bangun di tengah malam untuk shalat, maka syukurilah karena Allah telah membangunkanmu.
Tanpa rahmat dan kelembutan-Nya, engkau pasti akan tetap terlelap dalam tidur.
Dikisahkan tentang seorang gadis salehah yang bekerja di sebuah rumah.
Suatu malam, tuan rumah bangun dan mendapati gadis itu sedang shalat di pojok ruangan, seraya berdoa:
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu karena cinta-Mu kepadaku agar Engkau membahagiakanku, menyembuhkanku, dan memuliakanku.”
Tuan rumah terkejut dan berkata:
“Betapa beraninya engkau berkata demikian! Katakanlah: ‘Ya Allah, karena cintaku kepada-Mu.’”
Gadis itu menjawab dengan tenang:
“Wahai tuanku, andai bukan karena cinta Allah kepadaku, niscaya Dia tidak akan membangunkanku di jam ini. Andai bukan karena cinta-Nya, niscaya Dia tidak akan menegakkanku untuk berdiri di hadapan-Nya.”
Inilah hakikat tauhid yang sejati:
Bagaimana mungkin engkau merasa berjasa kepada Allah dengan ibadahmu, sedangkan Dialah yang memberi taufik untuk melakukannya?
Pertanyaan tentang Ayat “Masuklah ke Surga karena Amalmu”
Mungkin ada yang bertanya:
“Jika demikian, apa makna firman Allah:
‘Masuklah kalian ke surga karena amal yang telah kalian kerjakan.’ (QS. an-Naḥl: 32)”
Jawabannya:
Kalimat ini bukan perjanjian dua pihak, melainkan pernyataan kasih dari satu pihak — yaitu Allah.
Dialah yang memberimu taufik untuk beramal, lalu Ia memuliakanmu dengan menjadikan amal itu sebab masuk surga.
Itu bukan transaksi, tetapi penghormatan dari Allah kepada hamba-Nya yang taat.
Seandainya seseorang datang di hari kiamat menuntut surga karena amalnya, dan Allah memutuskan untuk mengadilinya berdasarkan hitungan yang sebenarnya, niscaya tak akan tersisa satu pun hak yang bisa ia tuntut.
Semua amalnya akan sirna di hadapan keagungan Allah dan hakikat penghambaan sejati.
Perumpamaannya seperti seorang ayah yang berkata kepada anaknya:
“Jika engkau memberi uang kepada si miskin, ayah akan memberimu hadiah.”
Lalu sang ayah diam-diam memasukkan uang itu ke saku anaknya.
Ketika sang anak menuruti perintah itu dan memberi uang kepada si miskin, ayahnya memujinya dan memberinya hadiah.
Padahal uang yang disedekahkan itu berasal dari ayahnya juga!
Demikian pula Allah — Dialah yang memberikan taufik kepada hamba-Nya untuk beramal, kemudian Ia membalasnya dengan karunia dan pahala sebagai bentuk kasih sayang dan pendidikan.
Antara Takut dan Harapan
Jadi, orang yang benar-benar bertauhid selalu berada antara dua keadaan:
Takut akan kemurkaan Allah,
Berharap akan ampunan-Nya.
Ketika ia melakukan ketaatan, ia tidak merasa aman dari murka Allah; dan ketika ia berdosa, ia tidak berputus asa dari rahmat-Nya.
Barangkali setan membisikkan kepadamu:
“Kalau begitu, amal-amal itu tidak ada gunanya; apakah sama antara orang taat dan orang durhaka?”
Ketahuilah, bisikan itu hanyalah tipu daya setan.
Sebab Allah telah berfirman:
“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu, dan akan Aku tetapkan bagi mereka yang bertakwa.” (QS. al-A‘rāf: 156)
Maka ada dua hal yang tak bisa dipisahkan:
1. Engkau harus melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
2. Namun engkau harus yakin bahwa ganjaran itu datang karena rahmat dan ampunan Allah, bukan karena layak atau pantasnya amalmu.
Sebagaimana firman Allah:
“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beriman, beramal saleh, lalu tetap di jalan yang benar.” (QS. Ṭāhā: 82)
Penutup
Maka seorang hamba wajib beribadah kepada Allah karena Allah adalah Tuhannya — bukan karena berharap surga semata.
Kalau seseorang beribadah hanya karena berharap surga, maka ia bukan hamba Allah, tetapi hamba surga.
Inilah yang dimaksud oleh Rabi‘ah al-‘Adawiyyah ketika berdoa:
“Ya Allah, aku tidak menyembah-Mu karena takut akan neraka-Mu, dan tidak pula karena mengharap surga-Mu, tetapi karena aku tahu Engkau adalah Tuhan yang layak disembah.”
Maka pada akhirnya, ketika kita menghadap Allah kelak, kita tidak membawa apa pun kecuali pengakuan bahwa kita hanyalah hamba yang lemah dan miskin.
Yang kita bawa hanyalah harapan kepada rahmat-Nya.
Kita berkata:
“Ya Allah, aku datang kepada-Mu bukan dengan amal, tetapi dengan harapan kepada kasih sayang-Mu.”
Dan inilah makna dalam sabda Nabi ﷺ:
“Tidak seorang pun masuk surga karena amalnya — kecuali dengan rahmat Allah.”
Inilah inti dari ucapan Ibn ‘Aṭā’illāh:
“Di antara tanda bergantung pada amal adalah berkurangnya harapan ketika terjadi kesalahan.”
Wallahu a'lam.

Berkomentarlah dengan bijak!